Minggu, 03 Januari 2016

Aquaculture Responsibility Part 1

Membangun Akuakultur Yang Bertangggungjawab
(Pendekatan pada Perspektif Pembangunan Berkelanjutan)

Oleh :
Cocon S, S.Pi



Berbagai krisis yang dihadapi masyarakat di berbagai belahan dunia yang dipicu oleh perubahan iklim global sebagaimana yang diigambarkan dalam buku fenomenal “Our Common Future” telah menggugah kesadaran negara-negara di dunia untuk menyatukan satu tekad bagaimana menyelamatkan lingkungan yang telah berada pada titik kritis. Ini kemudian menjadi tonggak sejarah bagi  perkembangan pola pendekatan pembangun pada negara-negara di dunia. Sejak deklarasi

Minggu, 06 Desember 2015

Sustainability Part IV : Konsepsi Daya Dukung Lingkungan

Konsep Daya Dukung Lingkungan Dalam Akuakultur

Konsep daya dukung secara mendasar menggambarkan hubungan antara ukuran populasi dan perubahan dalam sumber daya alam yang menopangnya, dimana hal ini diasumsikan bahwa terdapat ukuran populasi yang optimal yang dapat didukung oleh lingkungan (Inglis et al., 2000). Sedangkan Khanna et al. (1999) mengungkapkan bahwa

Isu Budidaya Laut : Pengelolaan Budidaya Laut

Bagaiamana Mengelola Budidaya Laut Secara Berkelanjutan?

Sub sektor perikanan budidaya saat ini menjadi barometer utama dalam menopang produksi perikanan nasional, seiring sub sektor perikanan tangkap yang mengalami tren penurunan produksi dari tahun ke tahun. Salah satu potensi ekonomi sumberdaya kelautan dan perikanan yang berpeluang besar untuk dimanfaatkan adalah budidaya laut (marikultur). Budidaya laut atau marikultur adalah suatu kegiatan pemeliharaan

Info Dari Daerah : Bangkitnya Animo Berbudidaya Udang

Ada Udang Dibalik Asa
(Mengintip Animo Masyarakat Pesisir Jepara)


Waktu itu matahari tepat berada diatas ubun-ubun, sinarnya terasa menyayat-nyayat kulit yang berlumuran keringat, namun anehnya angin pesisir juga seolah enggan untuk muncul menghantarkan kesejukan seperti biasanya. Mungkin sebagaian orang yang

Senin, 09 November 2015

Isu Pakan

Direktorat Pakan, Harapan dan Tantangan


Tahun 2015 menjadi kado istimewa bagi hampir seluruh pelaku usaha perikanan budidaya di Indonesia, betapa tidak, satu permasalahan utama dalam sistem produksi yakni masalah pakan sudah mulai dijadikan fokus kebijakan pemeriintah saat ini. Perubahan struktur organiasi tata kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan terbaru telah menetapkan satu direktorat teknis (setara eselon II) yang khusus menangani “tetek bengek” masalah pakan ikan. Ini tentunya menjadi harapan baru, betapa masalah pakan sebagai pembatas utama dalam bisnis budidaya ikan sejak bertahun-tahun justru terkesan dikesampingkan.

Senin, 02 November 2015

Konservasi

SAVE, KAWASAN PULAU PANJANG JEPARA !

 

Oleh : Cocon S, S.Pi*)

Kabupaten Jepara merupakan satu-satunya wilayah administratif di Jawa Tengah yang memiliki sumberdaya wilayah pesisir, laut dan pulau-pulau kecil. Keberadaan potensi SDA pesisir, laut dan pulau kecil tersebut menjadikan Jepara saat ini menjadi magnet baru bagi pengembangan sektor parawisata di Jawa Tengah. Tak terkecuali keberadaan pulau Panjang sebagai gugusan pulau Kecil yang persis berhadapan langsung dengan daratan kota Jepara ini  telah menjadi salah satu tujuan wisata terutama wisatawan lokal dari berbagai daerah. Dari aspek ekonomi, nampaknya keberadaan gugusan pulau kecil yang luasnya diperkirakan 19 ha ini telah memberikan kontribusi langsung terhadap pemasukaan pundi-pundi ekonomi daerah sebagai salah satu kawasan utama tujuan wisata.

Senin, 17 Agustus 2015

Ulasan Tokoh Akuakultur 1

MEMBANGUN KETERPADUAN HULU DAN HILIR DALAM PROGRAM INDUSTRIALISASI UDANG BUDIDAYA YANG BERDAYA SAING, ADIL, DAN BERKELANJUTAN[1]

Oleh
Prof.Dr.Ir. Rokhmin Dahuri, MS
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB;
Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia;
Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan; dan
Member of International Advisory Board of Center for Coastal and Ocean Development, University of Bremen

           
Bila kita insan perikanan Indonesia (nelayan, pembudidaya ikan, pengusaha perikanan, jajaran birokrasi pemerintah, peneliti, akademisi, LSM, dan stakeholders lainnya) ingin dianggap berjasa oleh rakyat Indonesia, maka kita harus bekerja cerdas, keras, sinergis dan ikhlas untuk menjadikan sektor KP (Kelautan dan Perikanan) memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengatasi sejumlah permasalahan bangsa dan, secara simultan menjadikan Indonesia sebagai bangsa besar yang maju, sejahtera, dan mandiri.  Untuk itu, sektor KP harus mampu meningkatkan kesejahteraan seluruh pelaku perikanan (khususnya para nelayan dan pembudidaya ikan tradisional), menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor, meningkatkan volume dan nilai ekspor, meningkatkan nilai tambah, mengembangkan multiplier effects, dan memperbesar kontribusinya bagi PDRB (perekonomian daerah) maupun bagi PDB (perkeonomian nasional) secara signifikan dan berkelanjutan (sustainable).

Teknologi Akuakultur

TEKNIK PENGGELONDONGAN IKAN BANDENG (Chanos-chanos) AIR TAWAR DENGAN PEMBERIAN PAKAN Daphnia  sp1

Oleh
Baharuddin dan Y.Heru Nugroho*)




PENDAHULUAN

Ikan bandeng termasuk ikan yang paling populer di seluruh Indonesia dan sudah bisa dipelihara di kolam air tawar.  Disamping itu, sumber daya alam untuk penggelondongan bandeng tawar di aceh sangat mendukung  Pemanfaatan pakan alami di sekitar lingkungan. 

TUJUAN

  • Menghasilkan gelondongan ikan bandeng tawar
    yang siap dibesarkan oleh pembudidaya ikan air tawar,
  • Mendapatkan info teknologi penggelondongan bandeng air tawar dengan pemberian pakan daphnia sp.

Senin, 10 Agustus 2015

Sustainability part III

Menyikapi Masalah Waduk Cirata

Oleh :
Cocon, S.Pi*


Fenomena permasalahan lingkungan di Perairan Umum seolah terus menerus terjadi, belakangan masalah waduk Cirata menjadi polemik di tengah –tengah masyarakat, imbasnya tentunya dirasakan langsung baik secara ekonomi, sosial maupun ekologi. Pada awalnya peruntukan waduk Cirata adalah untuk kebutuhan suplai listrik Jawa dan Bali, namun demikian dalam perjalannya Waduk Cirata dimanfaatkan untuk sektor lainnya terutama budidaya perikanan dan parawisata.


Polemik waduk Cirata semakin mencuat seiring dengan mulai munculnya permasalahan lingkungan yang berdampak terhadap kerusakan SDA dan lingkungan. Beberapa pihak menilai bahwa aktivitas budidaya ikan di KJA yang tak terkendali menjadi penyebab utama menurunnya kualitas lingkungan waduk Cirata. Aktivitas usaha KJA tersebut telah secara nyata melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan perairan waduk.  Sebagai gambaran, saat ini jumlah KJA yang ada lebih dari 56.000 unit padahal berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan sebagaimana dalam SK Gubernur Jawa Barat Nomor  41 tahun 2002 tidak lebih dari 12.000 unit saja (bisnis-jabar.com).

Senin, 27 Juli 2015

Opini : Mewujudkan Poros Maritim

Tol Laut dan Pergerakan Ekonomi Lokal

Oleh :
Cocon S, S.Pi


Visi Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia nampaknya mulai gencar dilakukan, salah satu program pendukung yang tengah menjadi fokus adalah implementasi pengembangan “tol laut”.  Konsep tol laut sendiri menurut Bappenas adalah konektivitas laut yang efektif berupa adanya kapal yang melayari secara rutin dan terjadwal dari barat sampai ke timur Indonesia. Dalam RPJMN 2015-2019 pengembangan tol laut akan difokuskan dengan mambangun masing-masing 24 pelabuhan strategis pendukung tol laut, 5 pelabuhan hub,  19  pelabuhan feeder. Tujuan intinya adalah menjamin konektivitas antar daerah yang pada akhirnya akan mampu menjamin efesiensi melalui pengurangan biaya logistik. Konsep ini sangat strategis mengingat salah satu masalah dalam implementasi sistem logistik nasional adalah masalah konektivitas, sedangkan dalam hal siklus bisnis yang sering dikeluhkan para pelaku usaha di Indonesia adalah inefesensi sebagai akibat tingginya biaya logistik. Bisa dibayangkan, bagaimana biaya transportasi hasil produksi dari sumber menuju pusat Industri/pasar dalam negeri nilainya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan ekspor langsung ke China misalnya. Disisi lain, bicara daya saing, menurut The Global Competitiveness Index (GCI) tingkat daya saing Indonesia masih relatif rendah bila dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya seperti Singapura, Malaysia, Brunei, dan Thailand. Faktor utama yang mempengaruhi daya saing tersebut adalah karena buruknya infrastruktur. Tentunya ini perlu menjadi catatan penting untuk menngukur dan mempersiapkan diri menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 yang akan mulai pada tahun depan.